Feeds:
Pos
Komentar

Istilah Khilafah dan Imamah Sinonim, Maknanya Pemerintahan Islam

Pengantar

Istilah Khilafah dan Imamah sebetulnya sinonim; maknanya adalah sistem pemerintahan Islam. Namun, oleh segelintir orang, kedua istilah itu dianggap berbeda pengertiannya. Mereka mengatakan ada perbedaan antara Khilafah dan Imamah; begitu juga istilah turunannya seperti imam dan khalifah. Menurut mereka Imam di sini adalah penguasa dalam pengertian umum. Pemimpin itu- masih menurut mereka- bisa kepala suku, lurah, camat, bupati, raja, sultan, khalifah, presiden, CEO, manager, dan lain-lainnya. Walhasil menurut anggapan mereka, Imamah itu berarti kepemimpinan yang bersifat umum. Adapun Khilafah adalah kepemimpinan yang lebih khusus.
Pengertian Khilafah dan Imamah

Adalah penting dalam masalah ini merujuk kepada pernyataan Imam Ibnu Hajar al-‘Asqalani, “Idza takallama al-mar’u fi ghayri fannihi atâ bi hadzihi al-‘aja’ib (Jika seseorang berbicara di luar bidang keahliannya, dia akan mengucapkan kalimat yang ajaib).” (Ibnu Hajar al-‘Asqalani, Fath al-Bari, III/683). Coba, kita lihat pendapat Imam Ar-Razi mengenai istilah Imamah dan Khilafah dalam kitab Mukhtâr ash-Shihâh hlm. 186:

الخلافة أو الإمامة العظمى، أو إمارة المؤمنين كلها يؤدي معنى واحداً، وتدل على وظيفة واحدة و هي السلطة العيا للمسلمين

Khilafah, Imamah al-‘Uzhma, atau Imarah al-Mukminin semuanya memberikan makna yang satu (sama) dan menunjukkan tugas yang juga satu (sama), yaitu kekuasaan tertinggi bagi kaum Muslim. (Lihat: Muslim al-Yusuf, Dawlah al-Khilâfah ar-Râsyidah wa al-‘Alaqât ad-Dawliyah, hlm 23; Wahbah a-Zuhaili, Al-Fiqh a-Islâm wa Adillatuhu, VIII/270).

Mari kita lihat juga pendapat serupa dari Imam Ibnu Khaldun dalam Al-Muqaddimah hlm. 190:

وإذ قد بيَّنَّا حقيقة هذا المنصب وأنه نيابة عن صاحب الشريعة في حفظ الدين وسياسة الدنيا به تسمى خلافة وإمامة والقائم به خليفة وإمام

Telah kami jelaskan hakikat kedudukan ini (khalifah) dan bahwa ia adalah wakil dari Pemilik Syariah (Rasulullah saw.) dalam menjaga agama dan mengatur dunia dengan agama. (Kedudukan ini) dinamakan Khilafah dan Imamah dan orang yang melaksanakannya (dinamakan) khalifah dan imam. (Lihat Ad-Dumaiji, Al-Imâmah al-‘Uzhma ‘Inda Ahl as-Sunnah wa al-Jamâ‘ah, hlm. 34).

Wahbah Az-Zuhaili dalam kitabnya, Al-Fiqh al-Islâmi wa Adillatuhu (VIII/418) menyatakan pendapat serupa:

الخلافة (أو الإمامة أو إمارة المؤمنين) أو أي نظام شوري يجمع بين مصالح الدنيا والآخرة كلها ذات مدلول واحد

Khilafah (atau Imamah atau Imarah al-Mukminin) atau yang berarti sistem berdasarkan musyawarah yang menghimpun kemaslahatan dunia dan akhirat, semuanya mempunyai pengertian yang sama. (Wahbah az-Zuhaili, Al-Fiqh al-Islâmi wa Adillatuhu, VIII/418).

Dhiyauddin ar-Rays dalam kitabnya, An-Nazhariyât as-Siyâsiyah al-Islâmiyyah hlm. 92 juga mengatakan:

يلاحظ أن الخلافة والإمامة الكبرى وإمارة المؤمنين ألفاظ مترادفة بمعنى واحد

Patut diperhatikan bahwa Khilafah, Imamah al-Kubra, dan Imarah al-Mu’minin adalah istilah-istilah yang sinonim dengan makna yang sama. (Lihat Wahbah az-Zuhaili, Al-Fiqh al-Islâmi wa Adillatuhu, VIII/465).

Semua kutipan ulama di atas menyatakan bahwa istilah Imamah dan Khilafah (juga Imaratul Mukminin) maknanya sama, tidak berbeda.

Kutipan-kutipan yang menunjukkan kesamaan makna Khilafah dan Imamah itu masih banyak sekali. Silakan cek pendapat yang sama dari: Rasyid Ridha dalam kitabnya, Al-Khilâfah aw al-Imâmah al-‘Uzhma, hlm. 101; Prof. Dr. Ali as-Salus dalam kitabnya, ‘Aqîdah al-Imâmah ‘Inda asy-Syî‘ah al-Itsnâ ‘Asyariyah (terj.) hlm. 16; Zainal Abidin Ahmad dalam bukunya, Membentuk Negara Islam, hlm. 30; dan Hasbi ash-Shiddieqy dalam bukunya, Islam dan Politik Bernegara, hlm. 42-43.

Silakan cek juga pendapat para ulama bahasa Arab (ahli kamus) yang menyamakan arti Imamah dan Khilafah, misalnya: Rawwas Qal‘ah Jie dan Hamid Shadiq Qunaibi dalam Mu‘jam Lughah al-Fuqahâ’, hlm. 64, 150, dan 151; Ibrahim Anis dkk dalam Al-Mu‘jam al-Wasîth, 1/27 dan 251.

Jika Imamah dan Khilafah pengertiannya sama, demikian juga istilah Imam dan Khalifah. Keduanya sama-sama berarti pemimpin tertinggi dalam negara Khilafah, tidak berbeda. Ini sebagaimana pernyataan Ibnu Khaldun yang telah dikutip di atas. Imam Nawawi dalam Rawdhah ath-Thâlibîn (X/49) menegaskan hal yang sama:

يجوز أن يقال للإمام :الخليفة، والإمام، وأمير المؤمنين

Boleh saja Imam itu disebut dengan Khalifah, Imam, atau Amirul Mukminin. (Lihat: ad-Dumaiji, Al-Imâmah al-‘Uzhmâ, hlm. 34).

Mengapa Imamah dan Khilafah Semakna?

Pertanyaan yang kemudian muncul adalah, atas dasar apa para ulama menyamakan pengertian Imamah dan Khilafah? Di sinilah Imam Taqiyuddin an-Nabhani memberi penjelasan yang gamblang dalam kitabnya, Asy-Syakhshiyah al-Islâmiyah Juz 2. Imam An-Nabhani berkata, “Telah terdapat hadis-hadis sahih dengan dua kata ini [Khilafah dan Imamah] dengan makna yang satu. Tidak ada makna dari salah satu kedua kata itu yang menyalahi makna kata yang lain, dalam nas syariah mana pun, baik dalam al-Quran maupun dalam as-Sunnah, karena hanya dua itulah yang merupakan nas-nas syariah. Tidaklah wajib berpegang dengan kata ini, yaitu Khilafah atau Imamah, tetapi yang wajib ialah berpegang dengan pengertiannya.” (Taqiyuddin an-Nabhani, Asy-Syakhshiyah al-Islâmiyyah, II/13).

Jadi, Khilafah dan Imamah memiliki arti yang sama karena nas-nas syariah, khususnya hadis-hadis sahih, telah menggunakan dua kata itu, yaitu kata “imam” atau “khalifah” secara bergantian namun dengan pengertian yang sama. Sebagai contoh, kadang Rasulullah saw. menggunakan kata “khalifah” seperti sabdanya:

إِذَا بُوْيِعَ لِخَلِيْفَتَيْنِ فَاقْتُلُوْا الآخِرَ مِنْهُمَا

Jika dibaiat dua orang khalifah maka bunuhlah yang terakhir dari keduanya. (HR al-Bazzar dan ath-Thabrani dalam Al-Awsâth. Lihat Majma’ az-Zawâ’id, V/198). Hadis ini juga diriwayatkan oleh Imam Muslim. Lihat: Syarh Muslim oleh Imam Nawawi, XII/242).

Namun, kadang Rasulullah saw. juga menggunakan kata “imam” seperti sabdanya:

مَنْ بَايَعَ إَمَامًا فَأَعْطَاهُ صَفْقَةَ يَدِهِ وَثَمْرَةَ قَلْبِهِ فَلْيُطِعْهُ مَا اسْتَطَاعَ، فَإِنْ جَاءَ آخَرُ يُنَازِعُهُ فَاضْرِبُوْا عُنُقَ اْلآخَرِ

Siapa saja yang membaiat seorang imam, lalu ia memberikan genggaman tangannya dan buah hatinya kepadanya, hendaklah ia menaati imam itu sekuat kemampuannya. Kemudian jika datang orang lain yang hendak merebut kekuasaan imam itu maka penggallah leher orang lain itu. (HR Muslim, Abu Dawud, Ibnu Majah, an-Nasa’i, dan Ahmad).

Kata “khalifah” dan “imam” dalam kedua hadis di atas mempunyai pengertian yang sama, yaitu pemimpin tertinggi dalam Negara Islam. (Lihat: Rawwas Qal’ah Jie dan Hamid Shadiq Qunaibi, Mu‘jam Lughah al-Fuqahâ, hlm. 64 dan 151). Jika “khalifah” dan “imam” sama pengertiannya maka sistem pemerintahan yang dipimpinnya, yaitu “Khilafah” dan “Imamah”, juga sama maknanya; tidak berbeda.

Antara Khilafah dan Imarah

Dalam banyak hadis shahih memang ada pembahasan kepemimpinan dalam pengertian umum. Kepemimpinan dalam arti umum ini disebut dengan istilah Imârah, Qiyâdah, atau Ri’âsah. Imam Taqiyuddin An-Nabhani menerangkan, “Imarah (kepemimpinan) itu lebih umum, sedangkan Khilafah itu lebih khusus, dan keduanya adalah kepemimpinan (ri’âsah). Kata Khilafah digunakan khusus untuk suatu kedudukan yang sudah dikenal, sedangkan kata Imarah digunakan secara umum untuk setiap-tiap pemimpin (amir).” (Taqiyuddin an-Nabhani, Asy-Syakhshiyah al-Islâmiyyah, II/125).

Hadis tentang Imarah, misalnya, sabda Nabi saw.:

إِذَا خَرَجَ ثَلاَثَةٌ فِي سَفَرٍ فَلْيُؤَمِّرُوا أَحَدَهُمْ

Jika keluar tiga orang dalam sebuah perjalanan, hendaklah satu orang dari mereka menjadi pemimpinnya. (HR Abu Dawud).

Dengan demikian, jelaslah bahwa kepemimpinan dalam arti yang umum, memang juga diterangkan dalam Islam, namun istilahnya bukan Khilafah atau Imamah melainkan Imarah. Imarah inilah yang bersifat umum sehingga mencakup kepala suku, lurah, camat, bupati, raja, sultan, khalifah, presiden, CEO, manager, dan sebagainya. [KH. M. Shiddiq Al-Jawi]

Daftar Pustaka

Ad-Dumaiji, Abdullah bin Umar bin Sulaiman, Al-Imâmah al-‘Uzhmâ ‘Inda Ahl as-Sunnah wa Al-Jamâ‘ah, (www.saaid.net), 1987.

Ahmad, Zainal Abidin, Membentuk Negara Islam, (Jakarta : Penerbit Widjaya), 1956.

Al-Yusuf, Muslim, Dawlah al-Khilâfah ar-Rasyîdah wa al-‘Alaqât ad-Dawliyah, (www.saaid.net).

An-Nabhani, Taqiyuddin, Asy-Syakhshiyah al-Islâmiyyah, Juz 2, (Beirut: Darul Ummah), 2002.

Anis, Ibrahim dkk, Al-Mu’jam al-Wasîth, (Kairo: Tanpa Penerbit), 1972.

As-Salus, Ali, Imamah dan Khilafah dalam Tinjauan Syar’i (Aqidah Al-Imamah ‘Inda Asy-Syi’ah Al-Itsna ‘Asyariyah), Penerjemah Asmi Salihan Zamakhsyari, (Jakarta: Gema Insani Press), 1997.

Ash-Shiddieqy, Teungku Muhammad Hasbi, Islam dan Politik Bernegara, (Semarang: PT. Pustaka Rizki Putra), 2002

Az-Zuhaili, Wahbah, Al-Fiqh al-Islâmi wa Adillatuhu, Juz 8, (Maktabah Syamilah).

Qal’ah Jie, Rawwas, & Qunaibi, Hamid Shadiq, Mu‘jam Lughah al-Fuqahâ’ (Beirut: Dar an-Nafa’is), 1988.

Iklan

Memahami Makna Khilafah, Imamah dan Imaroh

Khilafah

Para ulama Islam menyebut institusi pemerintahan Islam dengan beberapa istilah. Istilah yang paling sering mereka pakai dalam kitab-kitab akidah, fikih, dan sejarah adalah istilah “Imamah”, “Khilafah”, dan “Imarah” atau “Imaratul Mukminin”. Berikut ini penjelasan tentang pengertian masing-masing istilah ini.

PENGERTIAN IMAMAH

  1. Pengertian Secara Bahasa

Terminologi imamah merupakan bentuk isim mashdar. Ia diambil dari kata kerja dasar dalam bahasa Arab: amma – yaummu – amman wa amaaman wa imaamatan (أَمَّ- يَؤُمُّ-أَمًّا وَأمَاماَ وَأِمَامَةً) yang berarti: memimpin. Kata ‘imam’ secara bahasa memiliki makna: (1) setiap orang yang diikuti baik berada di atas kebenaran maupun kebatilan, (2) pengurus dan penanggung jawab suatu urusan, (3) jalan yang luas, dan (4) panutan.[1]

  1. Pengertian Secara Istilah

Para ulama menyebutkan sejumlah definisi imamah. Meskipun ungkapan mereka beragam, namun secara makna memiliki kesamaan. Di antara definisi imamah yang disebutkan oleh para ulama adalah sebagai berikut.

  • Imam Abul Hasan Ali bin Muhammad bin Habib Al-Mawardi Asy-Syafi’I (450 H):

الْإِمَامَةُ مَوْضُوعَةٌ لِخِلَافَةِ النُّبُوَّةِ فِي حِرَاسَةِ الدِّينِ وَسِيَاسَةِ الدُّنْيَا

Imamah adalah sebuah jabatan yang menjadi penerus peranan kenabian dalam menjaga agama dan mengatur dunia dengan agama.”[2]

  • Imamul Haramain Abul Ma’ali Abdul Malik bin Abdullah bin Yusuf Al-Juwaini Asy-Syafi’i (478):

اَلإِمَامَةُ رِيَاسَةٌ تَامَّةٌ وَزِعَامَةٌ تَتَعَلَّقُ بِالْخَاصَّةِ وَالْعَامَّةِ فِى مُهِمَّاتِ الدِّيْنِ وَ الدُّنْيَا

Imamah adalah kepemimpinan yang sempurna dan kekuasaan yang meliputi orang-orang khusus (para pejabat dan penguasa) maupun rakyat secara umum, dalam mengelola persoalan-persoalan agama dan dunia.”[3]

  • Imam Sa’duddin Mas’ud bin Umar bin Abdullah At-Taftazani (793 H):

والإمامة رياسةٌ عامة في أمر الدين والدنيا خلافة عن النبي صلى الله عليه سلم

“Imamah adalah kepemimpinan umum dalam perkara agama maupun dunia, sebagai pelanjut dari tugas kepemimpinan Nabi SAW.”[4]

  • Imam Abdurrahman bin Muhammad bin Khaldun At-Tunisi (808 H):

حمل الكافة على مقتضى النظر الشرعي في مصالحهم الأخروية والدنيوية الراجعة إليها ، إذ أحوال الدنيا ترجع كلها عند الشارع إلى اعتبارها بمصالح الآخرة ، فهي في الحقيقة خلافة عن صاحب الشرع في حراسة الدين وسياسة الدنيا به

Mengatur seluruh rakyat sesuai dengan aturan syari’at Islam demi merealisasikan kemaslahatan mereka dalam urusan akhirat maupun urusan dunia yang membawa maslahat bagi akhirat. Sebab, semua keadaan di dunia dalam pandangan Allah dipehitungkan jika membawa maslahat di akhirat. Maka pada hakekatnya imamah adalah pelanjut peran dari pengemban syariat (Rasulullah SAW) dalam menjaga agama dan mengatur dunia dengan pedoman agama.[5]

  • Syaikh Muhammad Najib Al-Muthi’i:

اَلرِّئَاسَةُ الْعَامَّةُ فِى شُؤُوْنِ الدُّنْيَا وَ الدِّيْنِ

Kepemimpinan umum (atas semua rakyat -penj) dalam urusan-urusan dunia dan agama.”[6]

Semua definisi ‘Imamah’ yang diuraikan para ulama di atas menjelaskan hakekat imamah, yaitu:

  1. Imamah merupakan sebuah jabatan tertinggi dalam negara Islam, karena membawahi semua orang, baik kalangan pejabat (menteri, panglima perang, hakim, gubernur, dan lain-lain) maupun kalangan rakyat jelata.
  2. Karena Nabi SAW adalah penutup para nabi dan rasul, dan tidak ada lagi nabi sepeninggal beliau, maka fungsi imamah meneruskan tugas-tugas kenabian yaitu memimpin dan mengurus urusan seluruh umat Islam, baik urusan-urusan agama maupun urusan-urusan dunia.
  3. Imamah memimpin seluruh umat Islam dengan berdasarkan hukum-hukum syariat Islam, baik dalam urusan-urusan dunia maupun urusan-urusan akhirat.

PENGERTIAN KHILAFAH

  1. Pengertian Secara Bahasa

Terminologi Khilafah adalah bentuk isim mashdar, dari kata kerja asal dalam bahasa Arab: khalafa – yakhlufu – khalafun wa khilaafatun. Maknanya secara bahasa adalah menggantikan posisinya, atau menggantikan peranannya. Ia secara bahasa juga memiliki makna datang sesudahnya, atau pelanjut dan penerus dari orang sebelumnya.

Dalam bahasa Arab dikatakan khalafa fulaanun fulaanan fi qaumihi, artinya adalah fulan B menggantikan fulan A sebagai pemimpin kaumnya. Dalam bahasa Arab juga dikatakan khalafa fulanun fulaanan, artinya adalah fulan B datang setelah fulan A.[7]

  1. Pengertian Secara Istilah

Para ulama memberikan beberapa definisi tentang khilafah. Berikut ini sebagian definisi yang mereka ungkapkan.

  1. Imam Yusuf bin Hasan bin Abdul Hadi Ad-Dimasyqi Al-Hambali (wafat 909 H):

عبارة عن الإمام والسلطان

“Khilafah adalah ungkapan lain untuk imam dan sultan.”[8]

  1. Muhammad Ra’fat Utsman (wafat 1438 H):

الزعامة العظمى وهى الولاية العامة على سائر أفراد الأمة و القيام بتسيير شؤونها والنهوض بكل ما يحقق مصالحها وفق ما أمر به الشرع.

“Khilafah adalah kepemimpinan tertinggi, yaitu kekuasaan yang berlaku umum atas seluruh individu umat Islam, mengurus dan menjalankan urusan-urusan umat Islam, dan melakukan segala hal yang merealisasikan kemaslahatan-kemaslahatan umat Islam sesuai dengan aturan yang telah diperintahkan oleh pembuat syariat (Allah SWT).”[9]

  1. Dr. Muhammad bin Ahmad bin Musthaafa Abu Zahrah Al-Mishri (wafat 1394 H):

الخلافة وهي الإمامة الكبرى ،وسميت خلافة لأن الذي يتولاها ويكون الحاكم الأعظم للمسلمين يخلف النبي في إدارة شؤونهم

“Khilafah adalah kepemimpinan tertinggi. Dinamakan khilafah karena orang yang memegang jabatan tersebut dan menjadi pemimpin tertinggi kaum muslimin adalah orang yang menggantikan peranan Nabi SAW dalam mengatur urusan kaum muslimin.”[10]

  1. Syaikh Abdul Mun’im Musthafa Halimah (Abu Bashir At-Thartusyi):

الخلافة الإسلامية هي الدولة التي توحّد و تحمع جميع المسلمين على اختلاف ألوانهم و أجناسهم ولغاتهم وقومياتهم, وعلى اختلاف أقطارهم وبلدانهم وولاياتهم وأماكن تواجدهم, يكون لهم جميعا نفس الحقوق و الواجبات, في دولة واحدة, يحكمها إمام و خليفة واحد, بكتاب الله و سنة نبيه صلى الله عليه وسلم, منتخب و مرضي من قبل الأمة, وممثلي الأمة من أهل الحل و العقد في جميع الأقطار و الولايات.

“Khilafah Islamiyah adalah daulah (negara) Islam yang menyatukan dan mengumpulkan seluruh kaum muslimin, dengan keberagaman warna kulit, suku, bahasa, dan bangsa mereka; dengan perbedaan negara, negeri, wilayah, dan daerah tempat tinggal mereka; mereka semua memiliki kesamaan hak dan kewajiban, dalam satu negara, dipimpin oleh seorang imam dan khalifah, dengan pedoman kitab Allah dan Sunah Nabi-Nya SAW, dimana imam dan khalifah tersebut dipilih dan diridhai oleh umat Islam dan Ahlul Halli wal Aqdi sebagai representasi umat Islam dari seluruh penjuru dan wilayah.”[11]

Semua definisi khilafah tersebut mengarah kepada makna yang satu, yaitu institusi kekuasaan tertinggi dalam Islam, yang membawahi seluruh kaum muslimin, dan mengatur urusan kehidupan kaum muslimin dengan landasan Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah SAW.

DEFINISI IMARAH / IMARATUL MUKMININ

Terminologi Imaratul Mukminin terdiri dari dua suku kata; imarah dan mukminin.

  1. Pengertian secara bahasa

Terminologi Imarah adalah isim mashdar. Ia berasal dari kata kerja dalam bahasa Arab: amara – ya’muru – amrun wa imratun wa imaaratun. Maknanya adalah memerintah. Amiir adalah pemimpin, yaitu orang yang memberi perintah.

Ia dapat juga diambil dari kata kerja dasar: imara – ya’maru – imratun wa imaaratun, artinya sesuatu yang besar. Dalam hadits shahih dijelaskan bahwa Abu Sufyan bin Harb saat diundang dan dimintai keterangan oleh Kaisar Romawi perihal surat dakwah Nabi Muhammad SAW, ia berkomentar:

لَقَدْ أَمِرَ أَمْرُ ابْنِ أَبِي كَبْشَةَ إِنَّهُ يَخَافُهُ مَلِكُ بَنِي الْأَصْفَرِ

Sungguh, perkara Ibnu Abi Kabsyah (nama pelecehan untuk Nabi SAW. Abu Kabsyah adalah bapak susuan Nabi SAW) telah membesar, sampai-sampai Kaisar bangsa kulit kuning (Romawi) pun gentar terhadapnya.” (HR. Bukhari no. 7 dan Muslim no. 1773)[12]

  1. Pengertian secara istilah

Jika terminologi Imarah digabungkan dengan terminologi mukminin, sehingga menjadi frase “Imaratul Mukminin”; maka menurut para ulama memiliki pengertian yang sama dengan terminologi khilafah dan imamah.

Adapun jika sebatas pada terminologi “Imarah”, atau “Imarah Islamiyah”, maka menurut para ulama memiliki pengertian yang lebih sempit. Terminologi Imarah atau Imarah Islamiyah biasanya memiliki pengertian sebuah wilayah bagian dari sebuah daulah (negara) yang menyeluruh cakupannya, atau sebuah wilayah sebagai cabang dan bagian dari satu kesatuan khilafah Islamiyah yang menyeluruh.[13]

Jika khilafah mencakup seluruh wilayah negeri kaum muslimin yang dipimpin oleh seorang imam, maka imarah biasanya adalah satu negara bagian dari khilafah, atau satu propinsi dari khilafah, atau satu wilayah bagian lainnya yang lebih kecil (misal, seukuran kota dan kabupaten).

Dalam terminologi yang biasa dipergunakan di bidang sejarah Islam, pemimpin sebuah imarah disebut amiir dan kedudukannya adalah setingkat seorang gubernur wilayah. Komandan pasukan dan panglima perang juga bisa dipanggil dengan nama gelar amiir. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam hadits dari Abu Hurairah RA bahwasanya Rasulullah SAW bersabda:

مَنْ أَطَاعَنِي فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ عَصَى اللَّهَ وَمَنْ أَطَاعَ أَمِيرِي فَقَدْ أَطَاعَنِي وَمَنْ عَصَى أَمِيرِي فَقَدْ عَصَانِي

Barangsiapa menaatiku niscaya ia telah menaati Allah dan barangsiapa mendurhakaiku niscaya ia telah mendurhakai Allah. Barangsiapa menaati Amir yang aku angkat, niscaya ia telah menaatiku dan barangsiapa mendurhakai Amir yang telah aku angkat, niscaya ia telah mendurhakaiku.” (HR. Bukhari no. 7137 dan Muslim no. 1835)

ASAL MULA PENAMAAN AMIRUL MUKMININ

Pada masa pemerintahan Abu Bakar Ash-Shiddiq, kaum muslimin memanggil diri beliau dengan nama panggilan “Khalifah Rasulullah SAW”.

Imam Ibnu Sa’ad dalam At-Thabaqat Al-Kubra meriwayatkan bahwa saat Abu Bakar As-Shiddiq wafat dan kedudukannya digantikan oleh Umar bin Khathab, kaum muslimin memanggil Umar dengan sebutan “Khalifah Khalifah Rasulullah SAW”. Kaum muslimin kemudian berkata, “Orang yang menggantikan jabatan Umar, kelak akan dipanggil Khalifah Khalifah Khalifah Rasulullah SAW. Tentu nama panggilan itu makin lama akan makin panjang.” Kaum muslimin kemudian memikirkan nama panggilan yang lebih sederhana dan singkat. Sebagian kaum muslimin berkata, “Kita adalah orang-orang mukmin dan Umar adalah Amir kita.” Sejak itu, Umar bin Khathab dipanggil dengan nama gelar “Amirul Mukminin.”

Imam Ath-Thabarani meriwayatkan bahwa Khalifah Umar bin Khathab mengirim surat kepada gubernur Irak, agar mengirim dua orang yang cerdas untuk ditanyai tentang kondisi Irak. Maka Gubernur Irak mengutus Labid bin Rabi’ah Al-Amiri dan Adi bin Hatim Ath-Thai ke Madinah.

Ketika keduanya tiba di Madinah, keduanya segera menambatkan tali kekang unta mereka ke tempat berteduh. Keduanya bertemu dengan Amru bin Ash, maka keduanya berkata, “Mintakanlah izin untuk kami kepada Amirul Mukminin!” Amru bin Ash berkomentar, “Kalian telah memanggil dengan nama gelaran yang tepat. Beliau adalah Amir kita, dan kita adalah orang-orang beriman.”

Amru bin Ash lalu menemui Umar bin Khatab, dan berkata, “As-Salamu ‘alaikum, wahai Amirul Mukminin.” Umar bertanya, “Apa-apaan ini?” Amru bin Ash menjawab, “Anda adalah Amir dan kami adalah orang-orang yang beriman.” Sejak saat itu Umar dan para khalifah sesudahnya dipanggil dengan nama gelar Amirul Mukminin.[14]

IMAMAH, KHILAFAH, DAN IMARATUL MUKMININ ADALAH SINONIM

Dari penjelasan definisi-definisi di atas, bisa dipahami bahwa ketiga terminologi “Imamah, Khilafah, dan Imaratul Mukminin” pada dasarnya memiliki pengertian yang sama. Ketiga istilah ini adalah sinonim. Demikian ditegaskan oleh para ulama dalam pernyataan-pernyataan mereka.

  • Imam Yahya bin Syaraf An-Nawawi (676 H) berkata:

يجوز أن يقال للإمام : الخليفة ، والإمام ، وأمير المؤمنين

“Imam itu boleh disebut khalifah, imam, dan amirul mukminin.”[15]

  • Imam Ibnu Khaldun berkata:

وإذ قد بيَّنَّا حقيقة هذا المنصب وأنه نيابة عن صاحب الشريعة في حفظ الدين وسياسة الدنيا به تسمى خلافة وإمامة والقائم به خليفة وإمام

“Setelah kami menjelaskan hakekat jabatan (Imamah) ini dan bahwasanya ia adalah menggantikan penyampai syariat (Rasulullah SAW) dalam menjaga agama dan mengatur urusan dunia dengan pedoman agama, maka jabatan ini disebut Khilafah dan Imamah, sedangkan pemangku jabatan ini disebut Khalifah dan Imam.”[16]

  • Syaikh Muhammad Najib Al-Muthi’i berkata:

والمراد بالامام الرئيس الأعلى للدولة، والامامة والخلافة وإمارة المؤمنين مترادفة، والمراد بها الرياسة العامة في شئون الدين والدنيا

“Adapun yang dimaksud dengan imam adalah kepala (pejabat) tertinggi negara. Imamah, Khilafah, dan Imaratul Mukminin itu sinonim. Maksudnya adalah kepemimpinan yang bersifat menyeluruh, dalam urusan-urusan agama maupun dunia.”[17]

Hal yang sama ditegaskan oleh Imam Al-Mawardi Asy-Syafi’i, Al-Baghawi Asy-Syafi’i, Ibnu Abdul Hadi Ad-Dimasyqi Al-Hambali, Al-Khathib Asy-Syarbini Asy-Syafi’i, Syaikh Muhammad Rasyid Ridha, Prof. Dr. Muhammad bin Ahmad Abu Zahrah Al-Mishri, Syaikh Muhammad Al-Mubarak, Dr. Muhammad Ra’fat Utsman, Prof. Dr. Abdul Aziz bin Izzat Al-Khayath, Dr. Abdullah bin Umar bin Sulaiman Ad-Dumaiji, dan para penulis lainnya. Wallahu a’lam bish-shawab. []

Penulis : Fadlullah

Editor : Ibnu Rodja

[1] Lisanul Arab, Al-Qamus Al-Muhith, dan Al-Mu’jam Al-Wasith, entri: amma.

[2] Al-Mawardi, Al-Ahkam As-Sulthaniyah, tahqiq: Ahmad Jad, Kairo: Darul Hadits, cet. 1, 1427 H, hal. 15.

[3]. Al-Juwaini, Ghiyatsul Umam fi At-Tiyats Azh-Zhulam, tahqiq: Prof Dr. Abdul Azhim Mahmud Ad-Dayyib, Jeddah: Darul Minhaj, cet. 1, 1432 H, hal. 217.

[4]. At-Taftazani, Syarh Maqashidi At-Thalibin fi Ilmi Ushulid Dien, Astanah: Daru At-Thiba’ah, cet. 1277 H, hal. 200. Dikutip dari Dr. Muhammad Ra’fat Utsman, Riyasatud Daulah fil Fiqh Al-Islami, hal. 50.

[5]. Ibnu Khaldun, Muqaddimah Ibni Khaldun, Tunis: Dar At-Tunisiyah, cet. 1984 M, hal. 244.

[6]. An-Nawawi, Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzab Ma’a At-Takmilah lil-Muthi’i, Jedah: Maktabah Al-Irsyad, t.t. XXI/26.

[7]. Al-Murtadha Az-Zabidi, Tajul ‘Arus min Jawahiril Qamus, X/100 dan Al-Jauhari, Tajul Lughah wa Shihahul Aarabiyah, IV/1356.

[8]. Ibnu Abdil Hadi, Idhah Thuruqil Istiqamah fi Bayan Ahkam Al-Wilayah wal Imamah, Damaskus: Dar An-Nawadir, cet. 1, 1432 H, hlm. 26.

[9]. Muhammad Ra’fat Utsman, Riyasatud Daulah fil Fiqh Al-Islami, Kairo; Darul Kitab Al-Jami’I, cet. 1, 1395 H, hlm. 27.

[10]. Muhammad Abu Zahrah, Tarikh Al-Madzahib Al-Islamiyah, I/21. Dikutip dari Dr. Abdullah bin Umar Ad-Dumaiji, Al-Imamah Al-Uzhma Inda Ahlis Sunnah wal Jama’ah, Riyadh: Dar Thayibah, cet. 2, 1408 H, hal. 33-34.

[11]. Abu Bashir At-Thartusyi, Al-Ahkam As-Sulthaniyah wa As-Siyasah Asy-Syar’iyah, t.p, t.t, hlm. 18.

[12]. Ibnu Abdil Hadi, Idhah Thuruqil Istiqamah fi Bayan Ahkam Al-Wilayah wal Imamah, hlm. 26.

[13]. Abu Bashir At-Thartusyi, Al-Ahkam As-Sulthaniyah wa As-Siyasah Asy-Syar’iyah, hlm. 19.

[14]. Ad-Dumaiji, Al-Imamah Al-Uzhma, hlm. 35 dan Utsman, Riyasatu Ad-Daulah, hlm. 43-44.

[15]. An-Nawawi, Raudhatu At-Thalibin, tahqiq: Adil Ahmad Abdul Maujud dan Ali Muhammad Mu’awwidh, Riyadh: Dar ‘Alamil Kutub, cet. 1, 1423 H, vol VII hal. 269.

[16]. Ibnu Khaldun, Muqaddimah Ibni Khaldun, hal. 244.

[17]. An-Nawawi, Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzab Ma’a At-Takmilah, XXI/26.

KODE NIK DI KTP

Ini rahasia di balik kode angka dalam NIK e-KTP kamu, belum tahu kan?Biasanya pada KTP kamu ada 16 digit angka Nomor Induk Kependudukan (NIK) dalam e-KTP. Erina Wardoyo

عرفت الخلافة بأنها رئاسة عامة للمسلمين جميعاً في الدنيا لإقامة أحكام الشرع الإسلامي، وحمل الدعوة الإسلامية إلى العالم.

والخلافة والإمامة بمعنى واحد، حيث وردت الأحاديث الصحيحة بهاتين الكلمتين بمعنى واحد، روى مسلم عن النبي أنه قال: «ومن بايع إماماً فأعطاه صفقة يده وثمرة قلبه فليطعه إن استطاع، فإن جاء آخر ينازعه فاضربوا عنق الآخر»، وفي الحديث الطويل الذي أخرجه الإمام أحمد، أنه e قال: «ثُمّ تكونُ خِلافةً على مِنهاج النُّبُوَّة»، وسواء سميت خلافة أو إمامة أو إمارة المؤمنين أو الدولة الإسلامية، فلا مشاحة في ذلك طالما التزم المدلول؛ لأن الواجب ليس التزام اللفظ، وإنما الواجب هو التزام المدلول، وهو كون الخلافة رئاسة عامة للمسلمين جميعاً في الدنيا لإقامة أحكام الشرع الإسلامي، وحمل الدعوة الإسلامية إلى العالم.

وبما أن الخلافة قد أصبحت رأيا عاما عند عامة المسلمين، وباتت أملهم في الخلاص من الوضع المزري الذي يعيشونه، كما أنها أضحت هدفا عند بعض الحركات الإسلامية، فقد صار لزاما على المسلمين الآن، وأكثر من أي وقت مضى، معرفة طريقة إقامتها، كما دلت عليها الأدلة الشرعية.

إن المسلم إذا أراد معرفة كيف يصلي فإنه يدرس أدلة الصلاة، وإذا أراد أن يجاهد فهو يدرس أدلة الجهاد، وإذا أراد أن يزكي ماله أو يحج فإنه يدرس الأدلة المتعلقة بكل مسألة بعينها، فهو لا يبحث عن أحكام الصلاة في أدلة الحج، ولا عن أحكام الزكاة في أدلة الصوم، وهكذا. وكذلك إذا أراد أن يقيم الدولة؛ فإن الواجب عليه أن يدرس أدلة قيامها من فعل الرسول e، وحيث إنه لم يرد عنه eطريقة لإقامة الدولة إلا الطريقة المبينة في سيرتهe؛ فإنه قد جانب الصواب أولئك الذين ذهبوا للبحث عن طريقة إقامة الدولة في أحكام الجهاد، وتبنوا القتال طريقة لإقامتها؛ لأن الرسول e لم يقم بالقتال مطلقا قبل إقامة الدولة، أي أنه لم يتخذ من القتال طريقة لإقامتها، بل إنه e قد نهى عن ذلك وشدد عليه، فقد جاء في صحيح البخاري ‏عَنْ ‏خَبَّابِ بْنِ الْأَرَتِّ ‏قَالَ: شَكَوْنَا إِلَى رَسُولِ اللَّهِ ‏e ‏وَهُوَ مُتَوَسِّدٌ بُرْدَةً لَهُ فِي ظِلِّ ‏الْكَعْبَةِ ‏قُلْنَا لَهُ أَلَا تَسْتَنْصِرُ لَنَا أَلَا تَدْعُو اللَّهَ لَنَا؟ قَالَ‏: «كَانَ الرَّجُلُ فِيمَنْ قَبْلَكُمْ يُحْفَرُ لَهُ فِي الْأَرْضِ فَيُجْعَلُ فِيهِ، فَيُجَاءُ بِالْمِنْشَارِ فَيُوضَعُ عَلَى رَأْسِهِ فَيُشَقُّ بِاثْنَتَيْنِ وَمَا يَصُدُّهُ ذَلِكَ عَنْ دِينِهِ، وَيُمْشَطُ بِأَمْشَاطِ الْحَدِيدِ مَا دُونَ لَحْمِهِ مِنْ عَظْمٍ أَوْ عَصَبٍ وَمَا يَصُدُّهُ ذَلِكَ عَنْ دِينِهِ، وَاللَّهِ لَيُتِمَّنَّ هَذَا الْأَمْرَ حَتَّى يَسِيرَ الرَّاكِبُ مِنْ‏ ‏صَنْعَاءَ ‏إِلَى ‏حَضْرَمَوْتَ ‏لَا يَخَافُ إِلَّا اللَّهَ أَوْ الذِّئْبَ عَلَى غَنَمِهِ وَلَكِنَّكُمْ تَسْتَعْجِلُونَ». كما جاء في تفسير ابن كثير عَنْ اِبْن عَبَّاس أَنَّ عَبْد الرَّحْمَن بْن عَوْف وَأَصْحَابه أَتَوْا النَّبِيّ e بِمَكَّة فَقَالُوا: يَا نَبِيّ اللَّه، كُنَّا فِي عِزَّة وَنَحْنُ مُشْرِكُونَ فَلَمَّا آمَنَّا صِرْنَا أَذِلَّة قَالَ: «إِنِّي أُمِرْت بِالْعَفْوِ فَلَا تُقَاتِلُوا الْقَوْم» وفي الحادثتين كأن بعض الصحابة رضوان الله عليهم قد استبطأوا إقامة الدولة، فأرادوا أن يلجأ e إلى القتال في إقامتها، وفي هاتين الحادثتين وفي غيرهما أصر e على المضي في طريقته، بل وغضب ممن أراد أن يثنيه عنها وإصرار الرسول eعلى القيام بأي أمر رغم تحمله الأذى في سبيله دليل على أن هذا الأمر فرض كما في الأصول.

إن إقامة الخلافة تحتاج إلى قوة عسكرية تمكن لها، هذا صحيح، لكن هذه القوة ليس مطلوباً أن تتوفر في الجماعة التي تعمل لإقامتها، بل لا يجوز أن تكون هذه الجماعة إلا سياسية، والأدلة السابقة وغيرها واضحة في ذلك، أما القوة العسكرية فواجب توفرها في الذين سيعطون النصرة للجماعة لتمكينها من استلام الحكم وإقامة الخلافة، وهم من يطلق عليهم أهل القوة والمنعة.

وهذا ما سار عليه الرسول e في إقامته للدولة الإسلامية الأولى، فإنه e قد طلب النصرة من أصحاب القوة والمنعة الذين كانوا يشكلون مقومات دولة حسب واقع المنطقة حولهم، ولذلك فإن الرسول e كان يدعو القبائل القوية إلى الإسلام ويطلب منها النصرة، فقبيلة تدمي قدميه الشريفتين، وقبيلة تصده، وقبيلة تشترط عليه، ومع ذلك يستمر e ثابتاً على ما أوحى الله إليه دون أن يغير تلك الطريقة إلى طريقة أخرى كأن يأمر أصحابه بقتال أهل مكة، أو قتال بعض القبائل ليقيم الدولة بين ظهرانيهم، وصحابته كانوا أبطالاً لا يخشون أحدا إلا الله، ولكنه e لم يأمرهم بذلك، بل استمر في طلب النصرة من أهل القوة والمنعة حتى يسَّر الله سبحانه الأنصار إليه فبايعوه بيعة العقبة الثانية، بعد أن كان مصعب رضي الله عنه قد نجح في مهمته التي كلفه بها الرسول e في المدينة المنورة، فبالإضافة إلى توفيق الله سبحانه له برجال من أهل القوة ينصرونه، فإنه رضي الله عنه قد أدخل بإذن الله الإسلامَ إلى بيوت المدينة وأوجد فيها رأياً عاماً للإسلام، فتعانق الرأيُ العام مع بيعة الأنصار، ومن ثم أقام الرسول eالدولة في المدينة ببيعةٍ نقية صافية.

هذه هي الطريقة الشرعية لإقامة الخلافة، والتي يجب أن تُتَّبع، لأن الأصل في الأفعال التقيد بالحكم الشرعي، كما أن سلوك غير هذه الطريقة يؤدي إلى تضييع جهود المسلمين، بل قد يؤدي إلى تركيز نفوذ الكفار المستعمِرين وعملائهم في بلاد المسلمين.

201633: Kisah Pengasingan Nashir Bin Hajjaj Oleh Umar Bin Khaththab Dari Madinah
Disebutkan bahwasannya Umar bin Khathab pernah mengasingkan Nashir bin Al Hajjaj karena ketampanannya yang sangat memikat? Apakah ini benar? Dan apa penyebab dari itu semua?
Published Date: 2014-12-25
Alhamdulillah…
Yang pertama : Terdapat dalam riwayat dari jalur yang berbeda baik dengan redaksi yang singkat atau redaksi yang panjang; bahwasannya Umar Bin Khathab Radliyallahu Anhu pernah mengasingkan Nashir bin Al Hajjaj ke Bashrah agar tidak menimbulkan fitnah kepada para wanita Madinah baik yang dikemas secara singkat atau secara panjang lebar :
Riwayat Ibnu Syubbah dalam “Tarikhul Madinah” (2/762 ) Dari Qatadah, dan Al Kharaaithi dalam kitab “ I’tilalul Qulub ” ( 2/392 ), Ibnul Jauzi dalam kitab “ Dzammu Al Hawa”( Halaman 123 ) Dari Muhammad bin Al Jahm bin Utsman bin Abi Al Jahm dari bapaknya dari kakeknya dengan redaksi yang amat panjang.
Diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dalam kitab “Hilyatul Auliya” ( 4/322 ), Ibnu ‘Asakir dalam kitab “Tarikh Dimasyq” (62/21) dari As Sya’bi dan Ibnu Sa’ad dalam kitab “Ath-Thabaqaat” (3/216) Dari Abdullah bin Buraidah dan Ibnu Asakir dalam kitab “Taarikh Dimasyk” (62/23) dari Muhammad Bin Sirin.
Ringkasannya adalah; Sesungguhnya Umar bin Al Khaththab Radliyallahu Anhu pernah berjalan mengelilingi lorong Madinah dan mendengar seorang wanita bersenandung Sya’ir seraya berdesah :
هل من سبيل إلى خمر فأشربها ** هل من سبيل إلى نصر بن حجاج
“Duhai adakah jalan yang menyampaikanku kepada khamr lalu aku meneguknya ** Duhai apakah ada sarana untuk sampai dan mendapatkan Nashr bin Hajjaj ”.
Lalu Umar memanggil dan minta didatangkan pemuda yang bernama Nashr bin Al Hajjaj dan dia adalah seorang pemuda yang teramat tampan, maka Umar pun mencukur rambutnya akan tetapi pemuda ini semakin tampan dan Umar-pun mengasingkannya ke Bashrah agar tidak menimbulkan fitnah di kalangan para wanita Madinah saat itu.
Kemudian di utuslah utusan ke Bashrah yang meminta agar Nasher bin Al Hajjaj kembali ke tanah kelahirannya dan dikatakan padanya bahwasannya tidak ada dosa apapun yang dia lakukan, namun Nasher menolak dan enggan kembali ke Madinah seraya berkata: Selagi masih hidup, saya enggan kembali (ke Madinah).”
Kisah semacam ini diriwayatkan oleh tidak sedikit dari kalangan para ulama’ di antaranya As Sam’aani dalam kitab “Al Ansaab” (3/156 ), Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam salah satu judul pada kitab “Majmu’ Alfatawa”, (11/552), (15/313), (28/109), (28/ 371), Dan riwayat Ibnu Al Qayyim dalam kitab “I’laam Al Muwaqqi’in ” (4/284), dan al Hafidz Ibnu Hajar dalam kitabnya “ Al Ishobah ” ( 6/382 ). Dan Ibnu Muflih dalam kitab “ Al Aadab As Syar’iyyah (3/132) demikian juga riwayat dari ulama’-ulama’ yang lain.
Dan Imam Ad Daaruquthni Rahimahullah dalam kitabnya “ Al Mu’talaf wa Al Mukhtalaf ” (4/2205 ) mengatakan : “Disebutkan bahwasannya Nasher bin Al Hajjaj adalah Ibnul Hajjaj bin ‘Alath As Sulamy yang pada zaman kehalifahan Umar bin Al Khaththab termasuk salah seorang pemuda yang sangat tampan, yang karena ketampanannyalah seorang wanita Madinah bersenandung :
هل من سبيل إلى خمر فأشربها ** أم هل سبيل إلى نَصْر بن حَجَّاج
“ Duhai adakah jalan yang menyampaikanku kepada khamr lalu aku meneguknya ** Duhai adakah sarana untuk sampai dan mendapatkan Nashr bin Hajjaj ”.
Para ulama yang lain meriwayatkan pula dengan ungkapan yang hampir sama, mereka adalah :Ibnu Abdil Barr dalam kitab “Al Isti’aab” (1/326), Ibnu Makula dalam kitab “Al Ikmaal” ( 1/560 ), dan Ibnu Al Atsier dalam kitab “Usudi Ghoobah” (1/ 456 ).
Al Hafidz Ibnu Hajar Rahimahullah berkata : “Aku mendapati dalam kitab “Al Mughribin” karangan Abu Al Hasan Al Madaaini dari jalur Al Walid Bin Said dia berkata: Umar Radliyallahu anhu mendengar penduduk Madinah membicarakan Nasher bin Al Hajjaj, mereka berkata: Abu Dzuaib adalah pemuda tertampan di Madinah. Lalu Umar memerintahkan untuk memanggilnya. Tatkala dia telah datang, Umar berkata kepadanya : Sungguh engkaulah yang mengganggu pikiranku, maka pergilah engkau dari Madinah, lalu dia berkata: Jika anda hendak mengeluarkanku dari Madinah maka bawalah aku ke Bashrah Wahai Umar. Dan disebutkanlah kisah Nasher bin Al Hajjaj yang amat masyhur”.
“Fathul Bari” ( 12/159-160 ).
Kisah ini sangatlah terkenal dan banyak diulas di kitab-kitab para Ulama’, yang diriwayatkan dari jalur yang bermacam-macam dan amat banyak, akan tetapi banyak riwayat-riwayat dari jalur-jalur tertentu yang tidak terlepas dari perdebatan akan kesahihannya, dan jalur yang paling sahih adalah jalur riwayat Abdullah bin Buraidah yang diriwayatkan secara Mursal, meski begitu penyebutan dan penyebarannya pada kitab-kitab para imam-imam dan cendekiawan muslim disertai dengan ulasan sejarah dan biografi dan dengan penyebarannya yang meluas dari berbagai jalur riwayat menunjukkan dan sebagai bukti akan keorisinilan kisah tersebut.
Yang Kedua: Kalau kita menilik dari perspektif Fiqih, maka hal tersebut masuk pada masalah mendahulukan kemaslahatan umum dari kemaslahatan pribadi. Maka secara umum, menimpakan kerugian atau bahaya atas kemaslahatan pribadi demi kemaslahatan umum itu lebih diutamakan dan sangat dianjurkan.
Badruddin Az Zarkasyi Rahimahullah menyebutkan dalam kitab : “Al Mantsuur Fiel Qowaid Al Fiqhiyyah” (1/348-349): “Ibnu Abdis Salaam berkata: Para Ulama bersepakat untuk menolak keburukan yang lebih besar dalam perkara dunia, dan Ibnu Ad Daqiq Al Id berkata: Di antara kaidah besar dan mencakup hajat manusia secara umum adalah mencegah dan menghalangi dua kerusakan besar dengan memilih yang lebih ringan di antara keduanya jika memang salah satu dari keduanya pasti akan terjadi. Hendakya menghasilkan kemaslahatan yang lebih besar dengan meninggalkan yang lebih ringan dari keduanya.”
Dia berkata: Hal itu bersifat umum, bukan berarti keumuman yang mutlak sekiranya kalau memang terjadi maka kaidah yang diatas tadi yang diterapkan.
As Syaikh Izzuddin Abdus Salaam berkata: Apabila terjadi pertentangan antara dua kemaslahatan, maka diambillah yang paling banyak kemaslahatannya atau kebaikannya di antara keduanya dengan mengenyampingkan yang paling rendah”.
Dan As Sarakhsi Rahimahullah berkata dalam kitab “Al Mabsuth”( 9/45 ) : “Jika telah diputuskan untuk mengasingkan seseorang; maka yang demikian itu atas dasar kemaslahatan dan kebaikan bersama bukan atas dasar pemberian dan penegakan sangsi belaka. Sebagaimana dahulu Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasllam telah mengasingkan orang yang di sebut-sebut sebagai seorang waria dari Madinah, dan juga Umar Bin Khaththab Radliyallahu Anhu telah mengasingkan Nasher Bin Al Hajjaj dari Madinah ketika dia mendengar seorang wanita yang bersenandung:
هَلْ مِنْ سَبِيلٍ إلَى خَمْرٍ فَأَشْرَبُهَا ** أَوْ هَلْ سَبِيلٌ إلَى نَصْرِ بْنِ حَجَّاجِ
“Duhai adakah jalan yang menyampaikanku kepada khamr lalu aku meneguknya ** Duhai adakah sarana untuk sampai dan mendapatkan Nashr bin Hajjaj”
Maka Umar-pun mengasingkan pemuda tampan tersebut bukan karena ketampanannya semata yang menyebabkan dia diasingkan, akan tetapi keputusan yang demikian itu diambil demi kebaikan dan kemaslahatan bersama”.
Al Aluusi Rahimahullah berkata : “Seorang pemimpin boleh mengambil keputusan berupa pengasingan demi kemaslahatan yang ia pandang lebih baik, sebagaimana Umar bin Al Khaththab Radliyallahu Ta’ala Anhu telah mengambil keputusan yang benar dengan mengasingkan Nasher bin Al Hajjaj ke kota Bashrah karena ketampanannya yang menimbulkan fitnah disebagaian kalangan wanita di Madinah.” Tafsir Al Aluusi ( 9/280 ).
Meski ada yang mengatakan: sesungguhnya para wanita penduduk Bashrah-pun akan terkena fitnah dengan ketampanannya setelah dia diasingkan ke kota Bashrah, maka apa yang harus kita perbuat? Kita telah mengalihkan fitnah dari satu tempat ke tempat yang lain, dan sama sekali kita tidak mengatasi akar permasalahannya!!
Maka jawaban akan hal demikian adalah :
Yang pertama: Pengasingannya dari negaranya dan kepindahannya dari tanah kelahirannya itu menyerupai hukuman, yang akan melemahkan dorongan fitnah dalam dirinya maupun yang lainnya, dan mengajarkan kepada para manusia bagaimana memerangi hawa nafsu dan mencela segala bentuk kekejian maka jika seseorang yang hidup di zaman Umar Bin Khaththab -yang syetan saja takut kepadanya dan memilih menghindar dengan kehadirannya- mengerti bahwasannya tidaklah pemuda ini diasingkan melainkan karena ditakutkan meluasnya fitnah. Seakan-akan dia (Umar) menyeru kepada penduduk Bashrah: Takutlah dan hindarkanlah oleh kalian fitnah, sungguh aku telah mengasingkan pemuda ini ke negara kalian agar aku tidak terganggu dengan fitnah yang akan timbul dari ketampanannya, maka berhati-hatilah kalian dari fitnah yang akan terjadi.
Yang kedua: Sesungguhnya perasaan orang yang diasingkan itu sama sekali berbeda dengan orang yang tinggal di tanah kelahirannya, karena dia di negeri pengasingan akan disibukkan dengan kondisi kejiwaannya, upaya mencari penghasilan dan pekerjaan hal ini jelas akan mengurangi kemakmuran dan kesejahtraannya sebagaimana yang ia rasakan dan dapatkan di negaranya. Karena di negeri asalnya di mana ia bisa berkumpul dan bersenda gurau dengan keluarga dan handai tolannya, dan tentu saja sedikit banyak hal semacam ini akan mengurangi ketampanannya dan menyibukkan dirinya dari sekedar memberikan perhatian kepada dirinya dan ketampanannya.
Syikhul Islam Ibnu Taimiyyah Rahimahullah berkata :
“Pengasingan Nasher bin Al Hajjaj dari Madinah dan dari tanah kelahirannya menuju ke Bashrah oleh Umar bin Al Khaththab, yaitu tatkala Umar mendengar senandung kegelisahan seorang wanita akan ketampanan Nasher bin Hajjaj, dan mula-mula yang dilakukan adalah perintah untuk menggunduli rambutnya agar ketampanannya menjadi pudar karena ketampanannya inilah yang menggoda dan menjadikan fitnah sebagian wanita. Ketika Umar melihat setelah digunduli rambutnya dan hal itu tidak mengurangi ketampanannya karena memang dia adalah pemuda yang paling tampan, maka Umar mengasingkannya ke Kota Bashrah; dan pengasingan ini bukan karena dosa yang telah ia perbuat juga bukan karena kekejian yang layak mendapatkan hukuman, akan tetapi karena menimbulkan fitnah di kalangan para wanita. Lalu diperintahkanlah untuk menghilangkan ketampanannya yang disitulah letak penyebab timbulnya fitnah, dan sesungguhnya pengasingannya dari tanah kelahirannya akan melemahkan cita-cita, angan-angan dan juga badannya, dan dia akan diketahui oleh banyak orang bahwa ia sedang dihukum. Masalahnya adalah adanya kekhawatiran akan timbulnya kekejian sebelum terjadinya peruatan mesum, bukan sekedar pemberian sangsi belaka” dari kitab.” (Majmu Al Fatawa, 15/313 ).
Yang ketiga: Sesungguhnya pengasingannya akan memberikan dan mendatangkan pemahaman kepada masyarakat serta mendidik jiwa-jiwa generasi muda guna memerangi fitnah yang akan timbul. Juga mengajarkan kepada para pemimpin satu masalah penting dalam perpolitikan yang dilandaskan kepada Syari’ah dan bagaimana mengedepankan kemaslahatan umum atas kemaslahatan pribadi dan individu. Juga menjelaskan sesungguhnya fitnah yang paling besar adalah fitnah wanita.
Yang keempat: Diantara indikasi dari Kemuliaan dan keagungan kota Madinah adalah disingkirkannya penyebab yang menimbulkan fitnah terhadap wanita, maka dia dijauhkan ke negara lain sebagi wujud penjagaan bagi kemuliaan dan keagungan Madinah.
Untuk mendapatkan faedah yang lebih luas, silakan lihat jawaban soal nomor 151671.
Wallahu A’lam bis Showaab…

Khilafah Ajaran Islam: Hukum Adanya Khilafah dan Menegakkannya (2)

Oleh: Dr. Daud Rasyid, Lc., MA (*)

Muslimahnews.com – Semua ulama’ kaum Muslim sepanjang zaman sepakat, bahwa adanya Khilafah ini adalah wajib. Jika Khilafah tidak ada, hukum menegakkannya bagi seluruh kaum Muslim adalah wajib. Dasar kewajibannya tidak didasarkan pada akal atau kesepakatan manusia, tetapi wahyu. Berkaitan dengan ini, Imam as-Syafii menyatakan:

أَنَّ لَيْسَ لاَحَدٍ أَبَدًا أَنْ يَقُوْلَ فِي شَئْ حِلٌّ وَ لاَ حَرَمٌ إِلاَّ مِنْ جِهَةِ الْعِلْمِ وَجِهَةُ الْعِلْمِ الخَبَرُ فِي الْكِتَابِ أَوْ السُّنَةِ أَوْ الإِجْمَاعِ أَوْ الْقِيَاسِ

Seseorang tidak boleh menyatakan selama-lamanya suatu perkara itu halal dan haram kecuali didasarkan pada ilmu. Ilmu yang dimaksud adalah informasi dari al-Kitab (al-Quran), as-Sunnah (al-Hadis), Ijmak atau Qiyas.” [Lihat, Asy-Syafii, Ar-Risâlah, hlm. 39].

Senada dengan itu, Imam al-Ghazali juga menyatakan:

وَجُمْلَةُ الْأَدِلَّةِ الشَّرْعِيَّةِ تَرْجِعُ إلَى أَلْفَاظِ الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ وَالْإِجْمَاعِ وَالِاسْتِنْبَاطِ

Keseluruhan dalil-dalil syariah merujuk pada ragam ungkapan yang tercantum dalam al-Kitab (al-Quran), as-Sunnah (al-Hadis), Ijmak dan Istinbâth (Qiyas).” [Lihat, Al-Ghazali, Al-Mustashfâ, Juz II/273].

Karena itulah, para ulama’ kaum Muslim sepakat mengenai kewajiban adanya Khilafah, dan kewajiban untuk menegakkannya, ketika ia tidak ada. Dasarnya adalah wahyu, yaitu al-Qur’an dan as-Sunnah, dan apa yang ditunjukkan oleh keduanya, baik berupa Ijmak Sahabat maupun Qiyas.

(Baca juga: Khilafah Ajaran Islam: Istilah Khilafah, Makna Khilafah dan Khalifah (1))

  1. Dalil al-Quran

Allah SWT berfirman:

﴿وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً…﴾

“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Sungguh Aku akan menjadikan di muka bumi Khalifah…” [Q.s. al-Baqarah [2]: 30].

Imam al-Qurthubi [w. 671 H], ahli tafsir yang sangat otoritatif, menjelaskan, “Ayat ini merupakan hukum asal tentang wajibnya mengangkat Khalifah.” Bahkan, beliau kemudian menegaskan, “Tidak ada perbedaan pendapat mengenai kewajiban (mengangkat Khalifah) ini di kalangan umat dan para imam mazhab, kecuali pendapat yang diriwayatkan dari al-‘Asham (yang tuli tentang syariah) dan siapa saja yang berpendapat dengan pendapatnya serta mengikuti pendapat dan mazhabnya.” [Lihat, Al-Qurthubi, Al-Jâmi’ li Ahkâm al-Qur’ân, Juz I/264].

Dalil al-Quran lainnya, antara lain QS an-Nisa’ (4) ayat 59; QS al-Maidah (5) ayat 48; dll [Lihat, Ad-Dumaji, Al–Imâmah al–‘Uzhma ‘inda Ahl as–Sunnah wa al–Jamâ’ah, hal. 49].

  1. Dalil as-Sunnah

Di antaranya sabda Rasulullah saw.:

(مَنْ مَاتَ وَ لَيْسَ فِي عُنُقِهِ بَيْعَةٌ مَاتَ مِيْتَةً جَاهِلِيَّةً) [رواه مسلم]

“Siapa saja yang mati, sedangkan di lehernya tidak ada baiat (kepada imam/khalifah), maka ia mati jahiliah.” [Hr. Muslim].

Berdasarkan hadis di atas, menurut Syaikh ad-Dumaiji, mengangkat seorang imam (khalifah) hukumnya wajib [Lihat, Ad-Dumaiji, Al-Imâmah al-‘Uzhma ‘inda Ahl as-Sunnah wa al-Jamâ’ah, hal. 49].

Nabi juga mengisyaratkan, bahwa sepeninggal baginda saw. harus ada yang menjaga agama ini, dan mengurus urusan dunia, dialah Khulafa’, jamak dari Khalifah [pengganti Nabi, karena tidak ada lagi Nabi]. Nabi bersabda:

(كَانَتْ بَنُوْ إِسْرَائِيْلَ تَسُوْسُهُمُ الأَنْبِيَاءُ، كُلَّمَا هَلَكَ نَبِيٌّ خَلَفَهُ نَبِيٌّ، وَإِنَّهُ لاَ نَبِيَ بَعْدِيْ، وَسَيَكُوْنُ خُلَفَاءُ فَيَكْثُرُوْنَ) [رواه مسلم]

“Bani Israil dahulu telah diurus urusan mereka oleh para Nabi. Ketika seorang Nabi [Bani Israil] wafat, maka akan digantikan oleh Nabi yang lain. Sesungguhnya, tidak seorang Nabi pun setelahku. Akan ada para Khalifah, sehingga jumlah mereka banyak.” [Hr. Muslim]

  1. Dalil Ijmak Sahabat

Perlu ditegaskan, kedudukan Ijmak Sahabat sebagai dalil syariah—setelah al-Quran dan as-Sunnah—sangatlah kuat, bahkan merupakan dalil yang qath’i. Para ulama’ ushul menyatakan, bahwa menolak ijmak sahabat bisa menyebabkan seseorang murtad dari Islam. Dalam hal ini, Imam as-Sarkhashi [w. 483 H] menegaskan:

وَمَنْ أَنْكَرَ كَوْنَ الإِجْمَاعُ حُجَّةً مُوْجِبَةً لِلْعِلْمِ فَقَدْ أَبْطَلَ أَصْلَ الدِّيْنِ… فَالْمُنْكِرُ لِذَلِكَ يَسْعَى فِي هَدْمِ أَصْلِ الدِّيْنِ.

“Siapa saja yang mengingkari kedudukan Ijmak sebagai hujjah yang secara pasti menghasilkan ilmu berarti benar-benar telah membatalkan fondasi agama ini…Karena itu orang yang mengingkari Ijmak sama saja dengan berupaya menghancurkan fondasi agama ini.” [Lihat, Ash-Sarkhasi, Ushûl as-Sarkhasi, Juz I/296].

Karena itu, Ijmak Sahabat yang menetapkan kewajiban menegakkan Khilafah tidak boleh diabaikan, atau dicampakkan seakan tidak berharga, karena bukan al-Qur’an atau as-Sunnah. Padahal, Ijmak Sahabat hakikatnya mengungkap dalil yang tak terungkap [Lihat, as-Syaukani, Irsyadu al-Fuhul, hal. 120 dan 124].

Berkaitan dengan itu Imam al-Haitami menegaskan:

أَنَّ الصَّحَابَةَ رِضْوَانُ اللهِ عَلَيْهِمْ أَجْمَعُوْا عَلَى أَنَّ نَصْبَ اْلإِمَامِ بَعْدَ اِنْقِرَاضِ زَمَنِ النُّبُوَّةِ وَاجِبٌ، بَلْ جَعَلُوْهُ أَهَمَّ الْوَاجِبَاتِ حَيْثُ اِشْتَغَلُّوْا بِهِ عَنْ دَفْنِ رَسُوْلِ اللهِ ﷺ.

“Sungguh para Sahabat—semoga Allah meridhai mereka—telah bersepakat bahwa mengangkat seorang imam (khalifah) setelah zaman kenabian berakhir adalah wajib. Bahkan mereka menjadikan upaya mengangkat imam/khalifah sebagai kewajiban paling penting. Faktanya, mereka lebih menyibukkan diri dengan kewajiban itu dengan menunda (sementara) kewajiban menguburkan jenazah Rasulullah saw.” [Lihat, Al-Haitami, Ash-Shawâ’iq al-Muhriqah, hlm. 7].

Lebih dari itu, menurut Syaikh ad-Dumaji, kewajiban menegakkan Khilafah juga didasarkan pada kaidah syariah:

مَا لاَ يَتِمُّ الْوَاجِبُ إِلاَّ بِهِ فَهُوَ وَاجِبٌ

“Selama suatu kewajiban tidak terlaksana kecuali dengan sesuatu maka sesuatu itu wajib pula hukumnya.”

Sudah diketahui, bahwa banyak kewajiban syariah yang tidak dapat dilaksanakan oleh orang-perorang, seperti kewajiban melaksanakan hudûd (seperti hukuman rajam atau cambuk atas pezina, hukuman potong tangan atas pencuri), kewajiban jihad untuk menyebarkan Islam, kewajiban memungut dan membagikan zakat, dan sebagainya. Pelaksanaan semua kewajiban ini membutuhkan kekuasaan (sulthah) Islam. Kekuasaan itu tiada lain adalah Khilafah. Alhasil, kaidah syariah di atas juga merupakan dasar atas kewajiban menegakkan Khilafah [Lihat, Syaikh ad-Dumaiji, Al-Imâmah al-‘Uzhma ‘inda Ahl as-Sunnah wa al-Jamâ’ah, hlm. 49].

  1. Kesepakatan Ulama Aswaja

Berdasarkan dalil-dalil di atas —dan masih banyak dalil lainnya— yang sangat jelas, seluruh ulama’ Aswaja, khususnya imam empat mazhab (Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafii dan Imam Hanbali), sepakat, bahwa adanya Khilafah, dan menegakkannya ketika tidak ada, hukumnya wajib. Syaikh Abdurrahman al-Jaziri (w. 1360 H) menuturkan,

إِتَّفَقَ اْلأَئِمَّةُ رَحِمَهُمُ اللهُ تَعَالىَ عَلىَ أَنَّ اْلإِمَامَةَ فَرْضٌ

“Para imam mazhab (yang empat) telah bersepakat bahwa Imamah (Khilafah) adalah wajib…” [Lihat, Al-Jaziri, Al-Fiqh ‘ala al-Madzâhib al-Arba’ah, Juz V/416].

Hal senada ditegaskan oleh Ibnu Hajar al-Asqalani, “Para ulama telah sepakat bahwa wajib mengangkat seorang khalifah dan bahwa kewajiban itu adalah berdasarkan syariah, bukan berdasarkan akal.” [Ibn Hajar, Fath al-Bâri, Juz XII/205].

Pendapat para ulama terdahulu di atas juga diamini oleh para ulama muta’akhirîn [Lihat, Imam Abu Zahrah, Târîkh al-Madzâhib al-Islâmiyah, hlm. 88; Dr. Dhiyauddin ar-Rais, Al-Islâm wa al-Khilâfah, hlm. 99; Dr. Abdul Qadir Audah, Al-Islâm wa Awdha’unâ as-Siyâsiyah, hlm. 124; al-‘Allamah al-Qadhi Syaikh Taqiyyuddin an-Nabhani (Pendiri Hizbut Tahrir), Asy-Syakhshiyyah al-Islâmiyyah, 2/15; Dr. Mahmud al-Khalidi, Qawâ’id Nizhâm al-Hukm fî al-Islâm, hlm. 248].

Ulama Nusantara, Syaikh Sulaiman Rasyid, dalam kitab fikih yang terbilang sederhana namun sangat terkenal berjudul Fiqih Islam, juga mencantumkan bab tentang kewajiban menegakkan Khilafah. Bahkan bab tentang Khilafah juga pernah menjadi salah satu materi di buku-buku madrasah (MA/MTs) di Tanah Air. (Bersambung…)

(*) Disampaikan di persidangan PTUN, Jakarta Timur, tanggal 08 Pebruari 2018, selaku Saksi Ahli.

Khilafah Ajaran Islam: Istilah Khilafah, Makna Khilafah dan Khalifah (1)
Oleh: Dr. Daud Rasyid, Lc., MA (*)
Muslimahnews.com – Khilafah adalah isim syar’i [istilah syariah]. Artinya, Khilafah ini bukan istilah buatan manusia, karena istilah ini pertama kali digunakan dalam nash syariah dengan konotasi yang khas, berbeda dengan makna yang dikenal oleh orang Arab sebelumnya. Sebagaimana kata Shalat, Hajj, Zakat, dan sebagainya. [Lihat, al-Amidi, al-Ihkam fi Ushul al-Ahkam, Juz I/27-28]
Istilah Khilafah, dengan konotasi syara’ ini digunakan dalam hadits Nabi saw. sebagaimana yang diriwayatkan Ahmad bin Hanbal:
(تَكُوْنُ النُّبُوَّةُ فِيْكُمْ مَا شَاءَ اللهُ أَنْ تَكُوْنَ، ثُمَّ يَرْفَعُهَا اللهُ إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا، ثُمَّ تَكُوْنُ خِلاَفَةٌ عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ) [رواه أحمد]
“Ada era kenabian di antara kalian, dengan izin Allah akan tetap ada, kemudian ia akan diangkat oleh Allah, jika Allah berkehendak untuk mengangkatnya. Setelah itu, akan ada era Khilafah yang mengikuti Manhaj Kenabian.” [Hr. Ahmad]
Ini juga bukan merupakan satu-satunya riwayat, karena masih banyak riwayat lain, yang menggunakan kata Khilafah, dengan konotasi syara’ seperti ini. Lihat, Musnad al-Bazzar, hadits no 1282. Musnad Ahmad, hadits no 2091 dan 20913. Sunan Abu Dawud, hadits no 4028. Sunan at-Tirmidzi, hadits no. 2152. Al-Mustadrak, hadits no. 4438.
Adapun pemangkunya disebut Khalifah, jamaknya, Khulafa’. Ini juga disebutkan dalam banyak hadits Rasulullah saw. Antara lain dalam hadits Abu Hurairah ra.
(كَانَتْ بَنُوْ إِسْرَائِيْلَ تَسُوْسُهُمُ الأَنْبِيَاءُ، كُلَّمَا هَلَكَ نَبِيٌّ خَلَفَهُ نَبِيٌّ، وَإِنَّهُ لاَ نَبِيَ بَعْدِيْ، وَسَيَكُوْنُ خُلَفَاءُ فَيَكْثُرُوْنَ) [رواه مسلم]
“Bani Israil dahulu telah diurus urusan mereka oleh para Nabi. Ketika seorang Nabi [Bani Israil] wafat, maka akan digantikan oleh Nabi yang lain. Sesungguhnya, tidak seorang Nabi pun setelahku. Akan ada para Khalifah, sehingga jumlah mereka banyak.” [Hr. Muslim]
Tidak hanya di dalam hadits ini, tetapi juga banyak hadits lain yang menggunakan istilah Khalifah [jamaknya, Khulafa’]. Lihat, Shahih Bukhari, hadits no. 6682. Shahih Muslim, hadits no. 3393, 3394, 3395, 3396, 3397 dan 3398. Sunan Abu Dawud, hadits no. 3731 dan 3732. Musnad Ahmad, hadits no. 3394, 19901, 19907, 19943, 19963, 19987, 19997, 20019, 20032, 20041, , 20054, 20103 dan 20137. Sunan at-Tirmidzi, hadits no. 2149 dan 4194.
Karena itu, istilah Khilafah dan Khalifah, jamaknya Khulafa’, adalah istilah syariah, yang memang digunakan dalam nash syariah, bersumber dari wahyu. Bukan buatan manusia, baik generasi sahabat, tabiin, atba’ tabiin maupun para ulama’ setelahnya. Istilah ini kemudian diadopsi para ulama’ ushuluddin [akidah], fikih dan tsaqafah Islam yang lainnya dengan konotasi sebagaimana yang dimaksud oleh hadits Nabi di atas.
Makna Khilafah dan Khalifah
Dalam Mu’jam Musthalahat al-‘Ulum as-Syar’iyyah, istilah Khilafah ini didefinisikan dengan:
النِّيَابَةُ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ فِي حَرَاسَةِ الدِّيْنِ، وَسِيَاسَةِ الدُّنْيَا، وَمِنْ أَمْثِلَتِهِ كَوْنُ أَبِيْ بَكْرٍ، وَمِنْ بَعْدِهِ مِنَ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ، وَنَحْوِهِمْ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ خُلَفَاءَ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ فِيْ حَرَاسَةِ الدِّيْنِ وَسِيَاسَةِ الدُّنْيَا.
“Menggantikan Nabi saw. dalam menjaga agama dan mengurus dunia, di antaranya seperti Abu Bakar, dan para Khulafa’ Rasyidin sepeninggalnya, dan yang lain seperti mereka, semoga Allah meridhai mereka, merupakan pengganti Nabi dalam menjaga agama dan mengurus dunia.” [Majmu’ah Muallifin, Mu’jam Musthalahat al-‘Ulum as-Syar’iyyah, hal. 756]
Karena itu, istilah Khilafah dan Khalifah, jamaknya Khulafa’ bukanlah istilah yang asing di kalangan ulama’ kaum Muslim, dan kaum Muslim di sepanjang zaman. Kecuali, orang yang jahil tentang Islam. Dalam kitab, al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu, karya Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili dinyatakan, “Khilafah, Imamah Kubra dan Imarah al-Mu’minin merupakan istilah-istilah yang sinonim dengan makna yang sama.” [Az-Zuhaili, Al-Fiqh al-Islâmi wa Adillatuhu, Juz IX/881].
Imam al-Mawardi [w. 450 H], dalam kitabnya, al-Ahkam as-Sulthaniyyah wa al-Wilayat ad-Diniyyah, menyatakan, “Imamah [Khilafah] dibuat untuk menggantikan kenabian dalam menjaga agama dan mengurus dunia.” [al-Mawardi, al-Ahkam as-Sulthaniyyah wa al-Wilayat ad-Diniyyah, hal. 3]. Sedangkan Ibn Khaldun [w. 808 H], menyatakan, “Menggantikan pemilik syariah [Nabi saw.] dalam menjaga agama, dan mengurus dunia dengannya.” [Ibn Khaldun, Tarikh Ibn Khaldun, hal. 98]
Dr. Mahmud al-Khalidi, dalam disertasinya di Universitas al-Azhar, Mesir, menyatakan, “Khilafah adalah kepemimpinan umum atas seluruh kaum Muslim di dunia untuk menerapkan syariah dan mengemban dakwah Islam ke seluruh penjuru dunia.” [Al-Khalidi, Qawâ’id Nizhâm al-Hukm fî al-Islâm, hlm. 226]. Definisi ini adalah definisi yang sama, yang digunakan oleh al-‘Allamah al-Qadhi Taqiyuddin an-Nabhani, pendiri Hizbut Tahrir, dalam kitabnya, Nidzam al-Hukmi fi al-Islam. [Lihat, an-Nabhani, Nidzam al-Hukmi fi al-Islam, hal. 34]
Karena merupakan istilah syara’, Khilafah adalah bagian dari ajaran Islam sebagaimana shalat, puasa, zakat, haji, dan lainnya. Bahkan, Nabi saw. tidak hanya menggunakan istilah ini dengan konotasi syariahnya, tetapi juga menambahkan dengan predikat, Khilafah ‘ala Minhaj Nubuwwah [Khilafah yang mengikuti metode kenabian], yang berarti Khilafah sebagai sistem pemerintahan Islam yang dijalakan oleh para sahabat itu merupakan copy paste dari Nabi saw. Mereka tinggal melanjutkan apa yang sudah dilakukan oleh Nabi saw.
Bahkan, Nabi saw. memerintahkan agar umatnya tidak hanya memegang teguh sunahnya, tetapi juga sunah para Khulafa’ Rasyidin. Nabi saw. bersabda:
(عَلَيْكُمْ بِسُنَّتِيْ وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ المَهْدِيِيِّنَ مِنْ بَعْدِيْ، وَعَضُّوْا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ) [رواه أبو داود والترمذي]
“Kalian wajib berpegang teguh dengan sunahku dan sunah para Khalifah Rasyidin yang mendapat petunjuk setelahku. Gigitlah sunah itu dengan gigi geraham.” [Hr. Abu Dawud dan at-Tirmidzi]
Perintah untuk terikat dengan sunah [tuntunan] mereka adalah perintah untuk mempertahankan Khilafah, sebagaimana yang diwariskan oleh Nabi saw. dan menegakkannya kembali, jika ia tidak ada. (Bersambung…)
(*) Disampaikan di persidangan PTUN, Jakarta Timur, tanggal 08 Pebruari 2018, selaku Saksi Ahli.